RHOMA DENGAN WAJAH CEKUNGNYA

Soneta Record, 20 Februari 2015

Kemunculan Rhoma Irama di acara pelantikan Forsa dengan wajah cekung, kurang sehat dan menyanyi kurang bersemangat menimbulkan pertanyaan dari sejumlah teman. Bahkan di beberapa status di facebook disebutkan bahwa sejumlah fans mendoakan secara spesial agar bang haji dipanjangkan umurnya. Saya sendiri persis duduk di belakang KH Fachrul Rozi sahabat bang haji yang menjadi Gubernur KW DKI Jakarta yang sempat berteriak dalam bahasa Arab ketika Rhoma memberikan isyarat tersebut, Ya,Allah, panjangkan umur Rhoma.



Mengapa fans dan penonton bereaksi seperti ini? Jawabannya the living legend mengisyaratkan akan menjadi the legend. Ia menyatakan di atas panggung bahwa saya sebentar lagi akan menyusul KH Zainuddin MZ (almarhum), tetapi karya-karya saya akan tetap hidup (ayo mas andi steiberger teruskan cita-cita museum Soneta dan Rhoma),

Umur adalah rahasia Tuhan, tetapi bagaimana menghadapi kematian merupakan seni tersendiri. Rhoma mempersiapkan hidup 3 in 1. Menjadi penyanyi, pendakwah dan politisi. Ketiganya dijalankan secara pararel. Kenapa ia ingin terjun politik?, karena semangat kebangsaan yang selalu dia sampaikan kepada publik di acara pengajian, televisi, radio dan juga saya secara pribadi. Dalam perbincangan saya dengan Rhoma ia terkadang mengingatkan kembali "ramdan, saya ingin mengabdikan diri saya li izzatul islam wal muslimin".



Kalau saya menterjemahkan kata per kata apa yang disebutkan bang haji yaitu untuk kemuliaan Islam dan umat Islam tetapi dalam konteks ke Islaman dan ke Indonesiaan, maka pesan Rhoma tersebut adalah saya ingin memuliakan bangsa dan rakyat Indonesia.

Saya setuju bang haji untuk hidup mulia dan memulikan orang. Itu adalah upaya kita untuk menjadi insan kamil. Saya tidak bisa banyak komentar tentang 2 bidang profesi rhoma yakni penyanyi dan pendakwah, tetapi komitmen sebagai politisi dalam Pileg dan Pilpres 2014 lalu sempat dicatat oleh media. Coba lihat hasil tulisan stasiun tivi asing BBC Indonesia yang punya kontributor di Indonesia di link http://www.bbc.co.uk/…/140107_tokoh_desember_2013_rhoma_ira… kutipannya berbunyi sebagai berikut:

"....Di dalam seminar itu, pria kelahiran 1946 itu dicecar berbagai pertanyaan dari dua orang guru besar FE UI dan perwakilan aktivis mahasiswa UI, termasuk beberapa pertanyaan "sulit".


Misalnya saja, dia ditanya, apa resep mujarab yang akan dilakukannya -- jika terpilih sebagai presiden -- untuk mengatasi kemerosotan nilai Rupiah atas Dollar Amerika Serikat.

Rhoma memberikan jawaban antara lain dengan mengutip sejumlah istilah ekonomi yang barangkali tidak dipahami sebagian penggemarnya di pelosok Indonesia.....".

Itulah kutipan ketika Rhoma berbicara di depan senat guru besar Universitas Indonesia. Saya bangga sekali mendampingi beliau di UI. Itu adalah kampus dimana saya pernah menjadi pimpinan mahasiswa disana. Pernah menjadi Ketua Ospek seluruh UI tahun 1994 dan sempat menjadi pengajar dan peneliti disana. Beberapa prof yang hadir adalah dosen atau sejawat ketika saya mengajar dulu. Sebuah kebanggaan ketika Rhoma bisa menampilkan dirinya secara kuat sebagai akademisi dan politisi di pentas unviersitas.

Ada pesan dari tulisan di BBC ini. Saya tulis ulang yah..., "Rhoma memberikan jawaban antara lain dengan menutip sejumlah istilah ekonomi yang barangkali tidak dipahami sebagain penggemarnya di pelosok Indonesia." Dalam konteks statemen Rhoma di acara pelantikan Forsa bahwa dia akan segera menyusul KH Zainudin MZ, maka kita juga belum tentu bisa memahami secara benar apa yang disampaikan Rhoma.



Lalu buat apa saya posting tulisan ini. Mungkin ada 2 tujuan saya menulis ini. Pertama, memperkuat kenyataan Dangdut yang telah menjadi kekayaan lokal. Rhoma sudah mengangkat dangdut dari musik kampungan di tahun 70-an menjadi musik yang layak dinikmati oleh semua kalangan hari ini. Sekarang hampir banyak pejabat, menteri, bahkan presiden tidak malu-malu mendengarkan musik. Saya sendiri kalau bosen denger musik klasik di mobil, saya mengganti dengan dangdut Rhoma Irama. Tidak ada dangdut ajeb ajeb ala koplo di mobil. Kalau ada lagu-lagu bang haji yang dicampur menjadi koplo juga tidak bayar royalti atau dicampur dengan tarian erotis nyaris telanjang, maka mungkin teman-teman forsa dapat mengingatkan sang penyanyi. Karena ada rahasia dibalik semua lagu bang haji, memulikan orang lain dengan keindahan cinta. Cinta kepada orang lain, orang tua dan Tuhan.


Keberadaan Rhoma hari ini yang masih bersama kita hari ini tentu saja perlu disyukuri. Sebagian penggemar sudah bisa berfoto bersama Rhoma atau anak-anaknya. Publik juga sudah bisa berfoto di studio soneta. Bersalaman sebelum naik panggung atau bisa ikut sholat subuh bersama Soneta dan Rhoma Irama. Sesuatu yang mustahil bisa dilakukan terhadap artis-artis ngetop sekarang ini atau Rhoma di tahun-tahun sebelumnya. Rhoma telah memberikan beberapa ruang privatnya kepada publik, kepada kita semua. Ruang publik ini akan sangat sulit kita dapatkan di tahun 70an, 80an atau 90-an. Hari ini kita meliaht ruang publik tidak hanya terbuka, tetapi Rhoma sendiri membuka sendiri sejumlah ruang privatenya menjadi ruang publik.


Untuk teman-teman penggemar yang sudah pernah bertemu atau bersamalam langsung dengan Rhoma, maka wajib mensyukuri, karena banyak orang yang tidak bisa berkata apa-apa setelah bertemu Rhoma dengan karismanya. Mereka sudah mengejar dan mengguncang-guncang mobil yang sudah ditumpangi untuk bersalaman, tetapi ketika dibuka oleh Rhoma untuk bersalaman, ternyata mereka tidak sanggup untuk menggapai tangan Rhoma. Ada karisma yang terpancarkan dari Rhoma Irama, sehingga orang tidak bisa berkata apa-apa. Diam, terpaku, karena berpikir "koq bisa?" dan a

khirnya tidak melanjutkan untuk bersalaman, karena hanya diam terpaku.


Selanjutnya setelah ruang-ruang private telah dibuka dan menjadi ruang publik dan kemuliaan telah dibagi dari kemuliaan seorang raja menjadi kemuliaan bagi para penggemar dan fansnya, lalu apalagi yang ingin diberikan? Jawaban saya mungkin tidak meng-enak-kan teman teman, Setelah itu semua, maka Rhoma ingin menyampaikan setelah itu semua, maka mati mulia. Mati adalah rahasia Tuhan, tetapi mati mulia adalah tujuan, khusnul khotimah. Sekali lagi itu rahasia Tuhan.


Bagi penggemar janganlah bersedih. Anda sudah dimuliakan oleh Rhoma Irama. Semangat untuk memuliakan bangsa dan negara harus dimulai dari kita sendiri. Jadilah orang-orang yang mampu memuliakan bangsa dan negara, khsususnya bagi diri kita, keluarga, lingkungan dan setelah itu bangsa dan negara. Pesan Rhoma kepada penggemar khususnya Forsa yakni melestarikan dan mengamalkan lagu-lagu Rhoma.

Kalau anda tidak bisa melakukan itu semua...cukup ambil earphone, colok ke

handphone anda lalu dengarkan lagu-lagu bang haji...itu lebih mulia daripada berbuat menjadi pendusta, pecinta kekerasan, dengki, fitnah atau perbuatan tidak terpuji lainnya seperti yang dilantunkan dalam syair-syair lagu rhoma. Karena diluar sana, dunia memang sulit ditaklukan dan dunia menjadi panggung sandiwara kata Shakespeare.


Sekedar catatan kepada sahabat forsa dan penggemar agar the living legend Rhoma Irama tidak segera menjadi the legend, maka doa kita, doa keluarga kita, doa sahabat forsa, doa ratrusan ribu fans perlu dipanjatkan agar the living legend tetap panjang umur dan diberi kesehatan selalu. Kalau boleh saran dari orang yang pernah belajar ilmu kesehatan dan sahabat bang haji , maka saya menyarankan agar bang haji mengamalkan lagunya "begadang jangan begadang, apalagi kalau sudah tua"..he he he he. Jaga kesehatan bang haji dan jangan banyak begadang, jika tiada perlunya.

10 tampilan

© 2023 by MORGAN ZACHS. Proudly made by Wix.com

  • Facebook Clean
  • Instagram Clean
  • Twitter Clean
  • Flickr Clean