RHOMA DAN FANS

Jakarta, Usai keliling konser Soneta, Juli 2014


Maaf tulisan ini bukan untuk kampanye pilpres, tetapi serial laporan perjalanan soneta keliling Indonesia. Mungkin mas Jiwwo Soewondo atau mas nur Soneta Mania yang paham makna tulisan dari kacamata yang berbeda.


Fans....yach, itu adalah kumpulan orang-orang yang mengidolakan seseorang. Biasanya selebritis. Fans beda-beda tipis (BBT) dengan pengikut. Karena fans kalau sudah jadi pengikut biasanya semua gerak-gerik, model rambut, jambang, jengot, nada, vocal dimirip-miripkan dengan sang idola. Coba lihat ajah fans di luneg (luar negeri) sana. Elvis Presley membuat remaja AS menggunakan celana cut bray (bener nggak sih)..atau celana yang bawahnya lebar dan bisa buat nyapu jalan. Belum lagi model rambut elvis. Gondrong kebelakang.




The dangdut living legend juga dikenal dengan jambang dan rambut gondrong di era Orde Baru. Sekarang sudah mulai klimis...tidak berkumis, tidak berjambang atau rambut gondrong, tetapi uniknya sebagian fans masih mengikut Rhoma tahun 70 dan 80-an. Sekarang ditambah logat baru "sungguh terlalu" digunakan untuk mengidentikan sesuatu dengan bang haji. Coba ajah anda yang punya jambang dan rambut gondrong ala Rhoma, maka beberapa orang akan bersiul, "sungguh terlalu". "sungguh terlalu identik dengan rhoma". Saya sendiri pernah menggunakan tagline itu ketika live di Apa Kabar Indonesia (AKI) pagi di stasiun televisi TV One.




Selama berkeliling show, kita menemukan fans rhoma dimana-mana. Di kampung dan di kota. "Ada Jawa, ada Sunda, Aceh, Padang, Batak dan banyak lagi yang lainnya" demikian lagu 135 juta. Ada yang bergabung formal dalam wadah Forsa, fans of rhoma and soneta. Ada yang nggak ngerti forsa-forsa-an, yang penting happy dan nonton pertunjukan rhoma plus soneta gratis. Ada yang nunjukin tangan satu-satu-satu, meski ada yang lupa 2 jari victory yang diacungkan. Ada fans dengan latar belakang dokter, penyuluh pertanian, pengacara. Di yogya fans yang berasal dari latar belakang pengamen naik ke mobil untuk menyanyikan lagu bang haji di depan grup soneta. Mungkin mas Dino Flute atau Aida Fitria bisa gambarkan suaranya seperti apa? (ups...bulan puasa nich...bisa batal puasa saya kalau ngomongin orang)



Ada fans yang waras, kurang se ons tingkat kewarasannya bahkan kurang waras. Ini bukan cerita bohong. Ditengah-tengah kerumunan cek sound ada orang gila yang asyik mendengarkan lagu bang haji (nanti kalau ketemu fotonya Insya Allah saya unggah). Ada anak kecil sampai kakek-kakek yang mesti digendong sama anaknya ikut tumpah ruah. Ada Bupati yang jingkrak-jingkrakan di panggung seperti layaknya fans biasa, padahal baru saja ngasih pidato politik layaknya Menteri.



Ada fans yang anaknya presiden. Ketika di GBK mbak Titi (prabowo) ikut nanyi lagu rhoma. Ada ketua perkumpulan India namanya Kobalen yang sangat bangga sekali ketika namanya disebutkan di ratusan ribu penonton di Senayan dan kemudian the legend menyanyikan lagu India.



Saya sendiri nonton pertunjukan Soneta di GBK tahun 1985. Ketika itu masih duduk dikelas 1 SMA di Jakarta Utara. Sebagian teman menyebut saya sebagai fans juga. Terserah deh, tapi kalau nengokin kerjaan saya dari pagi azan subuh ngedit foto-foto dan membuat tulisan ini sampai azan lohor baru kelar, maka teman teman bisa mengkategorikan sebagai apa?. (padahal, saya dapat honor loh untuk jadi tukang foto soneta, xixixixix). Uniknya lagi terkadang harus mengganti gaya bahasa dari tulisan ilmiah atau opini ke gaya bahasa santai yang bisa dicerna dan dinikmati semua fans dan non fans.



Fans. Adalah orang yang suka terhadap selebritis, belum tentu menjadi pengikut (follower). Kita harus menghormati fans yang mempunyai pilihan politik berbeda dengan bang haji atau fans formal seperti forsa. Mereka adalah teman-teman untuk berbagi cerita tentang karir, musik, atau aktifitas grup lainnya. Kongkow-kongkow penggemar ada yang membahas lagu atau belajar lagu baru, tukar menukar cendera mata atau hal ringan lainnya. Jadi, jangan ganggu mereka terkait dengan pilihan politik. Sebagian kita yang sudah memposisikan diri sesuai dengan pilihan politik. Tentunya tidak perlu alergi dengan teman-teman yang akan menggunakan hak politik berbeda, bahkan tidak memilih.



Semoga 9 Juli 2014 berlangsung aman dan damai. Itu doa kita semua. Usai 9 Juli kita akan terus diingatkan dengan lagu Stop. "stop perdebatan, stop pertengkaran. Stop permusuhan, stop pertikaian". Kemudian jangan lupa lirik lagu Kita adalah Satu...Untuk itu saya cuplik lirik lagu tersebut untuk saling menjaga Pemilu Pilpres 2014 agar berjalan lancar, amin.

Kita adalah Satu

Satu hati ( satu hati ) satu rasa ( satu rasa ) satu pedih indonesia

Satu cinta ( satu cinta ) kamu cinta ( kamu cinta ) kita cinta indonesia

Deritamu deritaku gembiramu gembiraku

Tangismu juga tangisku tawamu juga tawaku

Walau kita jauh dis'brang gunung walau kita jauh dis'brang pulau walau kita jauh dis'brang laut kita adala satu

Walau kita beda dalam bahasa walau kita beda dalam budaya walau kita beda dalam agama kita adalah satu

Walau kita jauh dis'brang gunung

walau kita jauh dis'brang pulau

walau kita jauh dis'brang laut kita adala satu

Walau kita beda dalam bahasa

walau kita beda dalam budaya

walau kita beda dalam agama kita adalah satu

Kita adalah satu kita adalah satu kita adalah satu

Indonesia..indonesia..indonesia



4 tampilan

© 2023 by MORGAN ZACHS. Proudly made by Wix.com

  • Facebook Clean
  • Instagram Clean
  • Twitter Clean
  • Flickr Clean