PENGORBANAN RHOMA IRAMA DAN QURBAN

Masjid Chusnul Khotimah, Mampang, 15 Oktober 2013


KONTEKS. Konteks diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Sebuah gambar memiliki makna. Makna tersebut tergantung subyektifitas pemilik mata. Seorang tengah membawa golok, akan dianggap penganut anti kekerasan sebagai pembuat onar. Mereka yang berjanggut dan bersorban akan dianggap Islam Phobi sebagai teroris.


Dalam suasana Idul Qurban yang penuh berkah ini, izinkan saya mengambil gambar bang haji Rhoma Irama tengah membawa golok. Golok ini akan dipergunakan untuk menyembelih hewan qurban. Hewan qurban ini adalah hewan qurban untuk keluarga bang haji. Kata menyembelih saja sudah membuat orang ngeri. Ada pertanyaan iseng, kenapa seorang "legend" turut menyembelih hewan?




Situasi bang haji Rhoma sebagai pengorban pada tahun ini dan juga tahun-tahun sebelumnya memungkinkan yang bersangkutan untuk menyembelih hewan qurban miliknya. Dalam konteks agama Nabi Ibrahim sendiri yang hendak menyembelih anaknya. Mereka yang tidak memahami konteks secara utuh, maka akan menganggap seorang yang membawa golok dan hendak menyembelih anaknya akan mencap tokoh ini sebagai Orgil, alias orang gila.




Dalam kutbah sholat ied di lapangan Bumi Serpong Damai (BSD) tadi pagi Rhoma Irama juga menyampaikan kenapa Rasul mau menuruti perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Perintah Allah adalah hal utama hari ini. Terjadi disorientasi hari ini. Tujuan hidup manusia untuk mengabdi pada Tuhan diambil alih oleh materialisme. Pesan bang haji ketika di mobil menuju perjalanan ke BSD disampaikan kembali dalam kutbah ini. Korupsi menurut bang haji terjadi karena disorientasi dalam hidup manusia hari ini.




Kembali ke konteks penyembelihan hewan. Menyembelih tentunya harus memiliki golok yang sangat tajam. Hewan tidak boleh menderita ketika disembelih. Keberadaan bang haji dengan goloknya seperti yang tampak dalam gambar yang saya ambil tadi pagi artinya sah dan dibenarkan dalam agama. Norma kehidupan juga membenarkan orang membawa golok dalam konteks untuk menyembelih atau hewan jagal di Rumah Pemotongan Hewan (RPH).

Setelah bicara tentang kurban, ijinkan saya untuk menyampaikan sedikit saja tentang poligami. Saya sendiri bukan penganut poligami, tetapi saya tidak pernah menyalahkan mereka yang melakukan praktek poligami. Al Qur'an dalam Surah An Nisa ayat 3 menyebutkan bahwa nikahilah wanita yang kamu senangi, satu, dua, tiga atau empat, tetapi jika kamu tidak bisa berbuat adil, maka nikahilah satu saja.


Dalam konteks Islam menikah lebih dari 1 istri tentunya diperkenankan. Silahkan saja orang mau menggunakan dalil ini untuk menikah, tetapi juga tidak disalahkan untuk mencintai satu orang seumur hidupnya. Tentu saja kalau keluar konteks keagamaan, dalam hal ini diluar Islam, ini akan berbeda. Meski penafsiran di internal Islam juga masih ada yang menuntut untuk tetap satu untuk menunjukkan argumen bahwa bersikap adil tidak bisa diterapkan oleh manusia di dunia. Adil hanya milik Tuhan semata, katanya. Lalu buat apa Tuhan menurunkan ayat ini?


Subyektifitas makna keadilan ini harus dilihat kedalam konteks. Konteks keagamaan dan konteks subyektifitas seseorang. Orang yang memiliki kemampuan untuk menikah lebih dari satu, ada ijin dari istrinya tentu saja menjadi sah secara keagamaan. Ada kyai yang beristri hanya satu, tetapi ada juga memiliki kemampuan beristri lebih dari satu. Itu sah-sah saja menurut saya.


Dalam konteks pengorbanan Ibrahim untuk menyembelih anaknya perlu dilihat bagaimana seorang istri memaklumi dan melakukan pengorbanan untuk merelakan suami untuk menikah lagi. Itu adalah sebuah pengorbanan yang sangat besar. Menyerahkan definisi keadilan kepada pasrah diri kepada Tuhan, bahwa sang suami akan berbuat adil nantinya. Pengorbanan para istri-istri yang mengizinkan suaminya menikah hari ini perlu dikaitkan dengan konteks pengorbanan Ibrahim.



Mohon maaf kalau saya perlu menjelaskan gambar dan menariknya dalam konteks qurban. Semoga amal ibadah dan pengorbanan kita mendapat berkah dan ridho Allah Swt, Amin YRA. Jakarta, 15 Oktober 2013.

0 tampilan

© 2023 by MORGAN ZACHS. Proudly made by Wix.com

  • Facebook Clean
  • Instagram Clean
  • Twitter Clean
  • Flickr Clean