MAN TEMANRHOMA.COM

Jakarta, 8 Mei 2015

Ternyata saya masih berteman dengan Rhoma Irama hingga hari ini. Kenapa? karena saya suka berteman. Berteman berarti harus menjaga kepercayaan baik di depan atau di belakang teman kita. Tidak boleh bilang A di depan, lalu bilang B di belakang. Obyektif, mungkin bahasa yang tepat. Konsisten mungkin bahasa lainnya. Karena saya tidak akan berjalan berkelak kelok sejak masa lalu, masa sekarang dan mungkin masa depan.



Ada teman-teman masa kini yang ingin berteman. "bang ramdan, tolong berteman dengan saya!. Saya pengen ditulisin berteman dengan ramdan". Maaf teman antrean pertemanan kita masih belum dalam bentuk tulisan, tetapi sejak anda memperkenalkan diri anda secara terbuka, apa adanya berteman dengan saya, maka anda masuk daftar list berteman. Kalau belum sempat ditulis, itu lebih kepada waktu. Waktu untuk menulis seperti ini terkadang tidak banyak kesempatan. Insya Allah saya akan tuliskan nama anda dengan tinta emas. Tidak ada kehinaan untuk teman. Meski anda hina saya disana ada kebaikan. Keburukan yang disampaikan dengan baik berarti memberikan terang kepada yang gelap.


Hari ini saya ingin memperkuat pertemanan dengan fans rhoma dan soneta. Liputan tentang pelantikan DPP Forsa di Soneta Record cimanggis ternyata terblokir di youtube. Setelah seharian dari pagi hingga sore hari ternyata 2 file yang sudah diedit, render, dan unggah, tetapi tetap ditolak youtube. Mohon maaf teman-teman foto-foto pelantikan forsa gagal saya taruh di youtube.



Untuk menghilangkan jenuh, film action the kingdom tentang radikalisme cukup nyangkut untuk jadi bahan paparan saya besok didepan guru-guru di Kantor Walikotamadya Jakarta Utara. Sebuah film james foxx yang tidak menggurui tentang radikalisme. Radikalisme itu ternyata ada di rumah kita, di lingkungan kita bahkan mungkin dalam diri kita. Pandangan dan sikap radikal adalah pemahaman yang tidak salah. Ngotot untuk diri kita untuk menjaga sikap dan pandangan kita. Orang lain harus menghargai sikap dan pandangan keras kita.

Persoalannya adalah sekeras apapun kita ketika ingin berkomunikasi dengan orang lain, maka frekuensi harus disamakan. Frekuensi yang berbeda, maka kita tidak akan bisa berkomunikasi. Ketika saya di mobil menggunakan radio 2 meteran dan berkomunikasi dengan teman-teman yang punya radio yang sama, ketika saya ingin berkomunikasi dengan teman teman di seputaran koja tempat tinggal saya, maka saya harus menggunakan frekuensi teman teman Koja, kalau tidak saya akan berkomunikasi dengan orang yang beda.

Kembali ke radikalisme, sang aktor James Foxx di ending film nyaris beranjak dari tradisi holywood yang berbau bolywood, jagoannya menang. Betul, Fox yang berlaga sebagai FBI berhasil membabat habis bandit-bandit teroris di Saudi, tetapi polisi Saudi harus mati ditangan saudaranya sendiri. Terakhir ada pesan terhadap Fox dari rekannya yang hendak mati karena terorisme, "jangan takut, kita bunuh mereka semua nanti!". Ternyata pesan yang sama disampaikan sang kakek dari keluarga pelaku teror yang orang Saudi. "jangan takut cucuku, nanti kita bunuh mereka semua nanti!". Layar kemudian ditutup dan semua penganan yang saya makan sudah habis semua, tetapi perang masih akan terus berlangsung. Masing-masing ingin membunuh atas nama dendam, atas nama agama, atas nama bangsa dan negara. Lalu kapan perang akan berakhir? Sampai kita semua tidak bisa berperang lagi?


Wrong answer menurut saya. Sampai kita semua tidak bisa berperang lagi artinya kita pasrah untuk menyerahkan jiwa kita kepada sifat buas kita sebagai manusia. Masih ada sisi belas kasih dan mencintai sesama umat dalam dada ini. Jika kita semua ingin kedamaian atau kenyamanan, maka atur frekuensi kita. Mari kita semua mendengarkan gelombang cinta dan kasih sayang. Damai tidak akan terwujud kalau kita tidak mengkomunikasikan sikap dan pandangan kita. Menaruh radikalisme dalam cara pandang, tetapi membagi rasa hormat dan kasih ketika berkomunikasi antar sesama. Saya yakin jika kita sama-sama mendengarkan gelombang yang sama dengan penyiar yang lembut dan penuh kasih, maka kita semua tentu akan masuk zona aman.


Ketika film HBO selesai diputar, maka giliran istri saya mencari frekuensi yang berbeda. Dangdut academia 2 di Indosiar. Sayangnya, Astaghfirulloh hal adzim, ribut terbuka,saling bentak dan bisa jadi maki-makian ada di ruang publik. Syaiful jamil yang menjadi juri muter-muter mau menjatuhkan peserta dangdut d'academia. Host acara Irvan Hakim mengingatkan kepada juri yang satu ini untuk tidak menjatuhkan karena semuanya sudah masuk sebagai pemenang di babak 4 besar. Syaiful Jamil tidak terima dan tampak ribut dengan Irvan Hakim. Saya yakin ini bukan rekayasa tim creative, karena mic sengaja dijauhkan oleh juri, pertanda tidak mau didengar banyak penonton, tetapi mimik muka dan muka merah masih tampak. Nah loh.



Ternyata kekerasan tidak semata di luar sana. Dikamar kita dipertontonkan konflik yang tidak perlu. Benar kata Ivan Gunawan yang menjadi komentator. "ini bukan debat kandidat presiden. Ini adalah hiburan. Jadi santai saja". Saya setuju dengan ivan gunawan agar ruang publik jangan dipertontonkan kekerasan yang tidak perlu.


Saya ingat kemarin kamis bersama Odie Muhammad Bakir rapat dengan deputi pencegahan BNN di Kantor BNN Cawang. Seniman dapat menjadi agent of change dengan merekayasa publik melalui lagu dan pengantar lagu dengan bahasa yang santun dan membuat syair agar masyarakat menuju kebaikan. Itulah alasan kenapa BNN memberikan atribut kepada Rhoma Irama sebagai Duta Pencegahan BNN. Karena baik syair, lagu dan pengantar lagu sang raja dangdut berisikan kebaikan. Bahkan di ruang publik yang bernama dangdut academia 2 dimana lagu rhoma irama setiap hari dinyanyikan oleh para juri, (bahkan barusan irwan sumenep menyanyikan lagu Gala-Gala karya bang haji rhoma) dengan tidak malunya membakar radikalisme di ruang-ruang tamu dan kamar-kamar tidur. Saya melihat mungkin ketidakhadiran Rhoma Irama baik di Dangdut Academia 1 dan 2 lebih disebabkan acara ini menampilkan bukan dangdutnya, tetapi kekerasan atas nama kelucuan. Konflik karena disebabkan kebodohan juri yang keras kepala dan inkonsisten dalam sikap dan pandangannya.



Kembali ke film the kingdom produksi tahun 2007. Bibit-bibit kekerasan akan timbul di panggung terbuka, di ruang publik, meski kemudian diberi obat salep bernama Kemesraan-nya Iwan Fals, tetapi bibit untuk melakukan perlawanan tidak senonoh yang bernama radikalisme akan tetap tumbuh subur.


Ah, sudahlah kebanyakan cerita. Lebih baik saya unggah foto-foto bang haji our legend. Mungkin ini bisa menjadi obat gundah. Jadilah seniman yang mengobarkan semangat damai baik dalam lirik, lagu ataupun pengantar lagu. Jangan kobarkan konflik yang tidak perlu, karena anda hanya akan melahirkan bibit-bibit kekerasan.

Salam damai,

ramdansyah

2 tampilan

© 2023 by MORGAN ZACHS. Proudly made by Wix.com

  • Facebook Clean
  • Instagram Clean
  • Twitter Clean
  • Flickr Clean