HAJI DADI@TEMANRHOMA

Jakarta, 5 Juli 2014 ditulis ulang 29 Mei 2020

Usai sesi latihan Soneta Haji Dadi dan Udin Flute nebeng mobil saya. Haji Dadi saya drop di Kalimalang untuk lanjut naik angkot ke arah Kaliamalang. Kata bang Udin dia tinggal sama anaknya di Kalimalang kalau ke Jakarta. Oh iya, Haji Dadi ini tinggal di Palembang, Sumatera Selatan. Ia hanya ke Jakarta ketika Soneta latihan untuk pertunjukan dan kemudian ikut show kemana saja Soneta tampil. Ketika beliau nebeng pertunjukan Soneta dalam rangka Indonesia Show di Cirebon.



Di Cirebon beliau menghadap rhoma di ruangan private Rhoma. Saya segera keluar karena ada perbincangan seirus mereka berdua. Keluar dari ruangan, beliau tanya apakah bisa pulan sesegera mungkin. Saya menjawab, "Saya tukar tiket kereta api pagi hari yang bareng dengan Soneta dengan tiket kereta yang dari Surabaya agar bisa pulang usia pertunjukan. Tiket saya jam 01.00". Itu dialog saya dengan haji dadi yang terakhir kali.


Betul, itu yang terakhir kali. Karena sejak itu ia tidak pernah tampil lagi dengan Soneta. Pemain terompet terlama ini digantikan oleh anggota baru. Saya juga tidak akan bertemu beliau lagi, karena tahun 2019 lalu Haji Dadi berpulang selama-lamanya. Ada postingan dari Forsa Palembang ia menerima kenang-kenagnan dari keluarganya foto y ang saya bingkai untuk pak haji dadi setelah pertunjukan 2014.


Namanya pak dadi. Duduk selama konser kampanye soneta ada disebelah bangku saya persis. Selalu didampingi dengan terompet kesayangannya. Bahasa gaulnya "kagak dishare tuch bangku"....he he, perlu dimaklumi....karena ada pujaan hati disebelahnya...Terompet.

Untuk motret pak dadi sungguh sangat berat. Kalau motret bang dino, zuhri, bang haji, madi, atau bang didi yang ada di depan tidaklah sulit, tetapi kalau yang barisan belakang perlu ambil posisi langsung didepan beliau, kalau tidak mau terhalang posisi fotonya. Di Gelora Bung Karno dia sempet minta difoto bersama mas komeng. Diperbesar yach foto saya dengan mas komeng, ujarnya.



Anggota soneta yang senang ganti ganti topi dari kupluk sampai model blangkon yach ini orangnya. Gaya nyamar seperti ini didapat ketika dia jadi anggota Tekab, Team Kepolisan Anti Bandit.. betul nggak yach singkatannya. Itu nama unit di kepolisian tahun 80-an yang sekarang sudah berubah menjadi reserse. Tugasnya di Polsek Tanah Abang. Tapi jangan lihat postur tubuhnya yang kecil lalu menyepelekan beliau, karena beliau benar-benar anggota kepolisian sebelum gabung di Soneta.




Belajar meniup terompet dari kakak-nya. Ketika di kepolisian tahun 82 beberapa kali tampil di Soneta. Biasnya di BKO kan...baca: bawah kendali operasi. Tapi, kata pak dadi, kalau keseringan BKO, namanya jadi disersi. Akhirnya kebanyakan tampil di Soneta menyebabkan tidak enak hati, sehingga beliau minta mundur dari kepolisian. Setelah berulang kali minta mundur ditolak, pada permohonan ke 7 (ntar periksa lagi sama mas noer Soneta Mania akhirnya diterima pernyataan pengunduran diri). Akhirnya tahun 1984 tampil total di Soneta...mohon tambahan penjelasan dari mas noer soneta mania...terima kasih...

berikut tambahan dari mas noer SONETA MANIA ( SONIA ) tentang pak dadi terompet..


Sebelum bergabung bersama SONETA, saya main Band di Club Malam ICC, Blue Moon dan Copacabana, itu tepatnya tahun 1978. Tahun 1980 saya berhenti secara total bermain music karena saya memutuskan untuk mengabdi kepada Negara sebagai anggota POLISI.

Saya masuk sebagai personil SONETA tahun 1982. Awalnya saya Pak Haji untuk melatih H. Nasir untuk bermain terompet. Setelah beberapa waktu mengajr, akhirnya Pak Haji berfikir bahwa tidak mungkin H. Nasir memainkan dua alat music sekaligus. Hingga selanjutnya Pak Haji menawarkan saya untuk bergabung dengan SONETA. Saya kaget dan merasa tidak mungkin karena saat itu saya adalah Nasrani, sedangkan SONETA sudah kadung terkenal sebagai pembawa lagu-lagu Dakwah Islam. Pak Haji meyakinkan saya bahwa kita hanya bermain music dan meminta saya untuk mencoba.


Kebiasaan rutin SONETA setiap usai latihan (senin dan Kamis) adalah mengadakan taklim seusai Sholat Maghrib hingga masuk waktu Isya dan saya-pun ikut mendengarkan. SEtelah satu tahun bergabung, tahun 1983 saya memutuskan untuk menjadi mualaf, masuk agama Islam. Setelah saya masuk dan mempelajari Islam, beturut-turut istri, anak dan adik-adik saya-pun memeluk Islam.


Tahun 1990/1991 saya memutuskan untuk mengundurkan diri secara hormat dari Kepolisian RI. Ini saya putuskan karena terus terang sulit membagi waktu antara tugas Negara dan bermain music. SONETA jika sedang show itu bisa 2-3 bulan tidak pulang sehingga saya sering desersi. Daripada menjadi beban kesatuan maka lebih baik saya mengundurkan diri secara terhormat.

Dan Alhamdulillah sampai saat ini saya masih bergabung dengan SONETA.

Disarikan dari Biography Rhoma Irama, Satria Bergitar (Uki Bayu Sejati-Kartoyo DS)



0 tampilan

© 2023 by MORGAN ZACHS. Proudly made by Wix.com

  • Facebook Clean
  • Instagram Clean
  • Twitter Clean
  • Flickr Clean