FOTO ESAI RHOMA DI NTB, 2013

BELAJAR MEMBUAT FOTO ESAI: hasil liputan foto di lombok, Nusa Tenggara Barat, 25 sd 27 September 2013..





Maaf tulisan ini tidak untuk mengajak atau memilih pasangan calon tertentu, tetapi lebih kepada upaya memotret perjalanan seorang calon yang kebetulan adalah seorang legenda. Pengalaman membuat sebuah foto esai dengan judul bang AWAS di akhir tahun 2012, membuat ketagihan untuk membuat konsep yang sama. Sebuah foto esai dan ditawarkan kepada si Raja Dangdut.




Berawal dari undangan sebagai konsultan politik pemenangan calon presiden jelang lebaran 2013 yang akhirnya diterima usai lebaran. Lalu, dibuatlah sejumlah konsep untuk turut membantu pemenangan. Perencanaan dibuat termasuk memasukan konsep foto esai. Foto esai kurang lebih akan bercerita tentang sebuah foto. Ia akan menjadi sebuah cerpen bergambar. Kenapa harus dibuat foto-foto menarik untuk sang legenda ini?


Jawabannya sebenarnya kesulitan menemukan foto-foto milik sang legenda dangdut ini. Kalau kita browsing internet, maka yang diketemukan lebih banyak foto berbayar milik agency (media). Padahal media sosial yang akan dibuat setiap bulan dan bernama RIFORRI akan banyak menampilkan foto-foto figur sang calon. Akhirnya diputuskan untuk ikut di sejumlah kegiatan untuk mengambil gambar sang tokoh, ketimbang harus membayar royalti untuk setiap gambar (ini kebijakan personal loh, bukan dari bang haji).





Sejak dibandara, tokoh kita satu ini sudah diambil gambarnya. Ketika masuk dan keluar mobil gambar berbicara tentang sang tokoh. Ketika ada seorang anak menyodorkan kaos untuk ditanda tangani, bang haji dengan tersenyum membubuhkan tanda tangan.

Ada hal dahsyat ditemukan dalam peliputan tabligh akbar ke Lombok, Nusa Tenggara Barat yang perlu disampaikan dan gambar turut bicara. Turun dari mobil hampir semua massa hendak menggapai tangan bang haji. Ada yang sekedar menempelkan tangan, mencium tangan bahkan sekedar menyentuh jubah. Pencipta lagu, penyanyi dan legenda musik dangdut Indonesia ini selalu ingin menggapai tangan penggemar. Meski ada yang berhasil digapai, tetapi lebih banyak penjagaan yang mencegah hasrat penggemar terwujud. Sebagian maklum, tetapi sebagian lagi justru tambah histeris. Mungkin ini hal yang lazim dari seorang legend. Kemanapun pergi ia elalu mendapat tanggapan dan teriakan histeris penonton.



Tahun 1996 ketika menjadi sempat NgeMc The Gipsy King di Senayan, histeris penonton ketika usai pertunjukan dan mendekat grup musik Perancis ini masih terbayang. Namun penggemar Rhoma lebih dahsyat dibandingkan Gipsy king. Citra rasa lokal dangdut yang sudah diperkenalkan sang legenda dangdut ini sudah lebih dari 40 tahun, sehingga basis massa akar rumput cukup beragam. Tua, muda, laki atau perempuan berkerumum dekat bang haji. Di setiap kesempatan banyak yang ingin berfoto bersama atau sekedar menyodorkan kameranya agar wajah tokoh ini ada dalam layar hp, ipad, atau perangkat lainnya.


Saya yang kebetulan berada disamping, dibelakang atau terkadang disisi persis bang haji tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Seringkali saya lihat foto Feri Latif teman SMP 30 dahulu, Yudi Fauzan rekan dari GAP atau Muhammad Syuhada, Agung Jatmiko si fotografer politik, MIftah praktisi politik, atau Ocit si babe Ali mendorong saya tidak mau kehilangan kesempatan berharga ini. Kalau sekedar merunut saya ingin menyebut Muzakir Ridha yang tengah haji menjadi panutan dalam memotret keindahan alam, juga pak iwan irawan yang berwajah mirip dosen statistik, tetapi hasil jepretannya justru sangat kualitatif (he he itu dosen beneran yang hobi moto)





Memotret seolah flashback kembali ke jaman kuliah di foto oleh Ari Widodo, anak Sosio angkatan 88 yang jago motret atau Aunul Hadi Idham Cholid yang seringkali saya pinjam kameranya, bergaya kembali sebagai fotografer. Jadi nggak perlu malulah, menjadi konsultan politik plus fotografer...he he he bayarannya jadi dobel. Tapi memang dasar nasib baik tidak dapat ditolak, sejumlah wartawan yang meliput bang haji, masih sempat wawancarai ane...he he he..bonus jeruk makan jeruk...(tukang foto ikut di foto)


Disela-sela istirahat atau pulang kembali ke hotel hasil jepretan saya sampaikan ke bang haji. Komentarnya, "Ente emang profesional, bung ramdan" puji bang haji. Ah yang bener ajah bang haji?. "Saya ini pemimpin redaksi RIFORRI bukan fotografer sungguhan.". Ya, sudahlah kalau memang dianggap bagus, tetapi jika berkenan ijinkan sekali saja difoto bersama, pinta aku setengah membujuk.


Akhirnya di apron bandara baru Lombok Tengah, NTB, maka foto bergaya bersama sang legenda jadi sudah. Lengkap sudah perjalanan liputan...ada sedikit foto oleh-oleh yang ditampilkan, mohon maaf kalau belum pro...minimal ada stok foto untuk tabloid RIFORRI edisi Oktober 2013 mendatang.





Selamat menikmati oleh oleh NTB.

2 tampilan

© 2023 by MORGAN ZACHS. Proudly made by Wix.com

  • Facebook Clean
  • Instagram Clean
  • Twitter Clean
  • Flickr Clean