DIBALIK LIVE RHOMA IRAMA DI KOMPAS TV (25 April 2020)

ada apa dengan konser amal Kompas tv? apa yang menarik? konser di bulan ramadhan?. Ah itu sudah biasa. Saya dampingi beliau di 15 titik konser di sejumlah provinsi Indonesia pada bulan Ramadhan tahun 2014. Pernah juga pagi-pagi dinihari jelang sahur nongkrong di Trans Tv ketika Rhoma Irama dan Soneta konser di Trans TV. Lalu yang menarik apanya, dong? Coba baca tulisan ringan saya, mungkin jadi tahu semenarik apa?

Tanggal 4 April 2020 pandemi Corona menyebabkan kesulitan finansial banyak orang, termasuk juga para artis. Lagu Corona dibuat Rhoma Irama untuk mengingatkan keberadaan Tuhan melalui virus ini. Ada sedikit perdebatan kecil terkait lirik. Seperti biasa saya ketik sms ke beliau. Sekitar jam 24.00 tidak hanya jawaban sms, tetapi ngobrol bareng selama 25 menit berlangsung. Ternyata beliau tengah di studio. Pikiran saya melayang ia tengah berada di depan perangkat audio untuk merapihkan lagunya teserbut. Ah, mungki n saja yang dimaksud studio adalah Soneta Record untuk membedakan ia tidak sedang di rumah.


Selama bulan Maret dan April 2020 ini beliau nelpon saya sekitar jam 24.00 kebetulan bendahara umum partai idaman , Mariam Fatimah, berpulang menghadap Ilahi (semoga Allah memberikan lapang kuburnya, amin). Rhoma menelpon saya tengah malam dan berencana akan takziah. Saya ingatkan beliau untuk tidak segera berangkat ke Harapan Indah atau rumah almarhumah. Betul saja, setelah saya cek jenazah sudah diberangkatkan ke Mojokerto atau kampong halaman almarhumah. Saya kabarkan kembali ke beliau, bahwa sebaiknya takziah kesana usai kembali dari Mojokerto.

Sebelum bulan Ramadhan saya ngobrol kembali dengan beliau dan bertukaran sms. Isinya apakah mungking Soneta konser di tengah pandemi Corona. Jawaban beliau tidak mungkin. Saya menjawabnya mungkin. Kenapa ? Jawabannya dengan pertunjukan dari rumah dan menerapkan physical distancing. Saya tahu betul konser Soneta membutuhkan 16 orang yang tampil didepan. Ah, salah, Soneta bisa tampil dengan 25 orang atau 26 orang. Sok tahu?

Lalu siapa kira kira 10 orang lainnya. Ada teknisi seperti Hj Tatang, Ata, manajemen artis seperti Odih, atau Rhoma Official. Saya tahu angka 25 orang atau lebih karena pernah ikut Soneta yang mencarter pesawat dari Banyuwangi ke Jakarta pada Ramadhan 2014 lalu. Pesawat carteran kami gunakan karena esok paginya harus konser di Gelora Bung Karno, setelah siang hari konser di Banyuwangi. Saya harus mencolek dr @handri yang tahu kejadian ini di Banyuwangi (dr handri ini juga sempat disebut Rhoma kalau kalau konser amal membutuhkan tenaga medis yang mau memberikan testimony bahanyanya Corona) Sekali, dua kali dan tiga kali masih menolak. Setelah diskusi panjang lebar dan juga tengah malam. akhirnya beliau setuju. Persoalan berikutnya dengan televisi mana?

Pada awalnya saya menyebutkan salah satu televisi yang biasa tampil dengan beliau atau bebas. Tetapi, setelah salah satu stasion televise menampilkan konser amal, maka mungkin stasiun ini yang akan ditawarkan. Gayung bersambut, produser yang kawan lama menghubungi saya. Malam itu Senin 13 April 2020 saya coba kembali telpon beliau. Seharian itu saya telpon beliau tidak diangkat. Saya maklum karena jadwal Rhoma sangat padat. Seperti biasa sebagai sahabat dia yang angkat telponnya.

“Ketum, ini salah satu stasion televisi bisa bikin konser amal live”. Saya menyampaikan ini, karena saya tidak tertarik dengan penampilan dialog atau diskusi dengan rhoma di televisi. Dua atau tiga stasiun sudah melakukan acara ini. Tetapi saya ingin pertunjukan live yang bisa mengingatkan publik untuk tidak mudik. Sayan yang tengah membuat makalah tentang Bhagavad Gita tengah menulis darma yang sesuai dnegan kasta. Seorang penyanyi darma-nya adalah dengan membuat lagu dan tampil konser. Meskipun darma yang lain bisa dilakukan, tetapi yang ultimate adalah dengan melakukan seni pertunjukan. Dan itu, konser amal. (colek anak anak STF Driyarkara 2019).

“Ramdan, kita ketemuan hari Kamis, 16 April 2020, jam 13.00 bada Zuhur di Rumah Pondok Jaya!”, kata Rhoma. Saya jawab, “Siap, ketum”. Catatan, meskipun saya sudah mundur dari Partai Idaman selaku Sekjen Partai per tanggal 1 Juni 2018, tapi nanti kalau ada panggilan Ketum atau beliau panggil Sekjen dengan Jen, Jen itu lebih pada faktor kedekatan saja. Tidak dalam arti formal.

Hari kamis, 16 April 2020. Meleset sedikit dari jam 13.00 saya jumpa dan ngobrol santai di pelataran rumah beliau di Pondok Jaya. Hari itu tepat hari ulang tahun istri beliau bu hajjah Ricca Rahim (atau sehari setelahnya yah?). Say hello to her.

“Tum, ini mas zacky” “Jen, kasih mas zacky makanan dan minuman yang enak” sapanya ke mas zacky dengan ramah. “siap, tum” jawab saya “Ini, si ramdan tuan rumah, bukannya kasih makan yang banyak” rhoma menganggap saya tuan rumah juga…he he he, ini bukan pengakuan loh Hari itu ada dua orang yang rapat, Satu di stasiun televise dari manajemen rhoma. Saya sendiri lebih kepada orang yang mendorong agar beliau yakin bahwa pertunjukan itu bisa berjalan sesuai dengan politik pemerintah untuk tidak mudik. Setelah 30 menit ngobrol kami pamit pulang.


Mas Zacki produser yang saya kenal sejak tahun 2008 (12 tahun dong, he he lama juga)…izin minta foto bareng, “Jen, foto ini don…Ini Sekjen tukang foto keren”…he he senang juga dibilang fotografer keren…karena 5 tahun memotret beliau merupakan pekerjaan yang lumayan bagi seorang youtuber seperti saya. Kerap, foto foto saya dilihat beliau. Kadang beliau minta foto foto tertentu dinaikan. Bahkan salah satu video yang kemarin diunggah ulang oleh Andi Steinberger merupakan video yang diminta untuk dinaikan ke youtube di tahun 2014.

He he saya sudah jadi youtuber sejak tahun 2014 loh..dan udah dapat 130 ribu pelanggan. Beliau sudah mengetahui dan mengizinkan untuk dinaikan atas permintaan beliau sendiri. Kalaupun ada yang take down dari beberapa video..toh saya sudah bergeser tidak menjadi fotografer rhoma karena sudah ada yang resmi….

Lanjut dah…

Oh yach, mengenai si zacky yang namanya mirip lagu dangdut…ini penggemar berat rhoma. Tiga puluh tahun lalu nonton rhoma di Tuban…dialog beliau dnegan rhoma sebagai berikut

“bang haji, saya nonton Soenta 30 tahun lalu. Saat itu hujan lebat..koq panjenengan berdoa lalu ke pojok panggung lalu hujan tiba-tiba berhenti total-tal tal” kata zacky. "saat itu hujan lebat di tengah pertunjukan. Saya lihat ada beberapa orang pawang tengah berdoa. Saya ada lihat juga keris yang dipasang di pinggir panggung. Dengan izin Allah seketika saya cabut dan buang kerisnya, maka hujan berhenti dan saya lanjutkan konser".

Sahabat saya yang ikut dampingi saya langsung menyambar, "saya ada di sela sela penonton. Saya jadi saksi benar itu terjadi".

Dijawab,"saya hanya ingin menegakan kalimat tauhid. Dengan izin Allah diberikan".

Sebuah jawaban ini bermakna tinggi, bahwa apa yang dilakukan hanya utk menyampaikan yang hak meski lewat lagu, meski lewat pertunjukan. Bukan utk kehebatan atau apa apa. Justru di pertunjukan seperti ini ia berusaha mengingat akan Tuhan dengan caranya.

Saya pulang ke rumah. Pukul 17.30 menjelang magrib, beliau telpon saya, “ram, jadi yach konser Sonetanya, live. Dan ini tanggalnya 25 April 2020” jawabnya. Itu hari Sabtu malam minggu 8 hari kemudian. Ia memajukan jadwal yang tadinya akan dilakukan tanggal 2 Mei 2020. Alhamdulilah. Rhoma konser lagi. Dan ini yang ditunggu oleh saya dan jutaan penggemar rhoma. Bukan taping, bukan wawancara, atau juga bukan minus One, tetapi live konser dengan physical distancing”…

Tugas saya selesai untuk meyakinkan beliau bahwa darma harus sesuai dnegan kelas sosilanya eh kastanya…Itu versi bhagavad gita yang ada dalam sinetron Mahabrata. Saya tidak hadir di Soneta meskipun Rhoma sudah memberitahukan bahwa Studio latihan yang selama ini saya selalu lihat ketika beliau konser sonata akhirnya dipindah ke belakang. Karena yang mengambil alih semua kegiatan adalah manajemen. Tugas saya hanya meyakinkan bahwa the show must go on untuk seorang Rhoma. Dan saya sebagai salah satu fans, darma saya adalah menonton pertunjukan agar “hati senang walau tak punya uang”

Hari Rabu saya ditelpon Zacky. “Mas ramdan. Sampeyan ditanya sama Rhoma. Kenapa nggak hadir” Ini merujuk pada kehadiran tim televise ke studio sebelum pertunjukan. Saya yang sudah berniat WFH dari rumah. Watch From Home akhirnya harus berangkat ke Soneta di malam pertunjukan 25 April 2020. Kenaapa? Karena mas Zacky yang harus memfasilitasi live chit chat Rhoma dengan Wakil Presiden dan Gubernur Jawa Barat. “Yo wis, mas Zacky saya ke Soneta..sekedar nonton dan dampingi beliau jika diperlukan”.

Akhirnya malam minggu saya nonton Soneta seperti biasa. Hanya berjarak 2 atau 3 meter. Yang keren tidak ada penonton lain, kecuali crew televisi, official, teknisi, manajemen dan group Fahmi Tamami. Ini privilege y ang diberikan Rhoma usai tahun 2012 ketika beliau saya panggil ke Panwaslu DKI dulu. Setelah saya tidak menjabat di sana dan tampil live di TVRI saat itu Soneta mau tampil live juga di TVRI malam hari saya dipanggil untuk ke ruangan VVIP nya dan diajak nonton live Soneta di tahun 2013. Setelah itu nonton dnegan jarak 2 atau 3 meter adalah bagian dari hidup saya….

Sik, asyik.. “ramdan, mau nyanyi lagu apa, biar kita iringi?” pinta rhoma sepuluh menit jelang countdown live. Saya bilang, “Lagu Magadir, tum” semua crew Soneta Colek bang @dino flute yang ikut ketawa. Rhoma menawarkan lagu, “untuk sekjen, lagu yang keren adalah Sebujur Bangkai atau Narapidana” derai tawa muncul lagi.

Kami kadang cela-celaan kalau di studio..

Saya nggak usah ceritain penampilan Rhoma dan Sonetanya…masing-masing orang sudah nonton via televise dengan merek tv masing-masing..Kalau suaranya kurang bagus. Salahkan TV-nya..karena TV Changkong berbeda dengan Sony dll…koq jadi ke merek mrek? Maaf saya tidak motret, pakai kamera kesayangan. Meskipun semua peratatan tersebut saya taruh di mobil. Saya hanya merekam dengan Xiaomi saya yang berusia 5 tahun. Maaf juga saya tidak merekam dengan Note 5 yang dibelikan Rhoma langsung, karena hp itu sudah beralih ke anak saya dan sekarang istri, Yuni Apriani.

Jadi, kalau nanti lihat hasilnya kurang bagus, jangan lihat merek hp-nya, tetapi siapa yang bikin cerita ini…mereknya ramdansyah, Eks sekjen partai idaman. Sebutan eks seksjen ini diralat oleh Rhoma malam itu di pintu masuk studio sebelum rekaman, “ramdansyah itu, bukan eks sekjen atau Seksjen” beliau menambahkan eks-nya disela kata sekjen. He he he Kayanya belum move on yah…ah sutra-lah, saya sudah tidak berpolitik praktis… Rhoma ketika saya ingatkan tentang tesis saya tentang partai idaman sebagai pelengkap gelar ketujuh saya “gue, udah kebat kebit jen, tesisnya..tenang nanti aku periksa lagi”

Oh yah itu buku formal dari 4 buku lainnya. Satu buku lagi komik berteman dng rhoma. “ente sendiri yang bikin ram, komiknya.”Tanya rhoma

“Nggak tum, saya ide ceritanya. Orang lain yang ngegambar” jawab saya ketika di Tanya tentang buku buku saya yang lain. Rhoma menanyakan ini, karena beliau tengah menggarap video klip lagunya yang dibuat dengan animasi… Kepo yah..tunggu tanggal mainnya

Usai pertunjukan jam 22.00 kita langsung pulang..yah enggak lah…kita nunggu jam 23.00 untuk sholat berjamaah, taraweh…di sela sela itu saya ngobrol dengan haji chofiv tentang keponakannya @ipank draw yang tengah buka café jelang pandemic..Cafenya di Parung Bingung yang Insya Allah saya akan kunjungi usai pandemic.

Kami sholat taraweh. Beliau minta saya jadi imam sholat, saya bilang, “Nggak enak ah…ketum kan gurunya. Masak, murid yang jadi pemimpin gurunya” jelang saya iqomat utnuk sholat Isya berjamaah dan dilanjut dengan taraweh dan witir.

Selesai sholat berjamaah pukul 24.00 saya pamit..Rhoma bilang, “Ram, nanti telpon telponan dan kita ketemuan”


Saya jawab, “Insya Allah, ketum” Malam itu saya tidak balik ke rumah…kembali ke 24 jam lalu. Harus belanja ikan hias di jalan jatinegara. Jam 02.00 saya di pasar jatiengara untuk beli ikan umpan, Oscar dan Cupang…sama dengan 24 jam lalu dan baru tiba di rumah pukul 03.00 untuk ikut sahur bersama dengan keluarga…

Sudah 2 bulan ini off jadwal persidangan di pengadilan, kuliah juga versi offline dan juga merumahkan 13 karyawan penyewaan alat pesta saya. Otomatis untuk bertahan hidup dengan usaha jualan ikan hias. Meski work from home, tetapi untuk belanja ikan saya harus keluar setiap malam…jadi saya mengikuti jejak rhoam, “berdagang boleh saja, karena ada perlunya”

Itu sekedar catatan pertunjukan live konser amal Soneta. Tidak untuk membandingkan penyanyi dnegan penyanyi lain, tetapi lebih kepada penghargaan saya kepada musisi, bahwa darma mereka adalah melakukan pertunjukan. Itu bisa dilakukan dari rumah.

Tetapi catatan kecil saya..Itu berlaku untuk Rhoma Irama dan artis artis besasr lainnya. Untuk musisi lain yang tidak punya papan nama, seyogyanya membantu,,,Hasil kosner amal seperti ini layak ditujukan untuk para musisi non papan nama…dan musisi jalan…agar kita sehat semua meski di rumah, amin yra

ucapan terima kasih untuk bu hj ricca rahim yang telah mberikan banyak emoji nya di hari ultah beliau ketika saya ucapkan selamat ultahnya dan langsung pulan ke rumah...ketikan "senang sekali mas ramdan sudah membantu ketum" adalah tulisan yang memiliki makna dalam...semoga bu haji selalu dalam lindungan Allah swt

1 tampilan

© 2023 by MORGAN ZACHS. Proudly made by Wix.com

  • Facebook Clean
  • Instagram Clean
  • Twitter Clean
  • Flickr Clean